Catatan
Cara memilih software house di Indonesia: daftar periksa sebelum tanda tangan
Pertanyaan yang perlu Anda ajukan ke software house mana pun sebelum proyek dimulai: lingkup dan penawaran, kepemilikan kode dan akun, cara serah terima, maintenance setelah rilis, dan tanda bahaya yang sering terlambat disadari.
Terbit
Kebanyakan proyek software yang bermasalah tidak gagal di minggu pertama. Masalahnya muncul belakangan: fitur yang dikira termasuk ternyata tidak, kode tidak bisa diambil saat Anda ingin pindah vendor, atau tidak ada yang merespons ketika sistem mati sebulan setelah rilis. Hampir semuanya bisa dicegah dengan pertanyaan yang tepat sebelum kontrak ditandatangani.
Tulisan ini adalah daftar periksa yang kami sarankan untuk menilai software house mana pun, termasuk kami. Isinya bukan peringkat vendor dan tidak ada nama yang direkomendasikan. Yang ada adalah pertanyaan, alasan di baliknya, dan jawaban yang perlu Anda waspadai.
1. Datang dengan masalah, bukan daftar fitur
Daftar fitur mengundang harga per fitur. Masalah bisnis mengundang pertanyaan balik, dan pertanyaan balik itulah yang paling banyak memberi tahu Anda tentang calon vendor. Sebelum menghubungi siapa pun, siapkan empat hal ini:
- Apa yang sedang rusak atau lambat hari ini, dan siapa yang merasakannya.
- Sistem apa yang sudah berjalan, termasuk spreadsheet yang diam-diam menopang proses.
- Siapa saja penggunanya, dan dari perangkat apa mereka bekerja.
- Kapan sistem ini harus dipakai, dan apa yang membuat tanggal itu penting.
Lalu perhatikan cara vendor merespons. Software house yang serius biasanya bertanya soal alur kerja dan pengecualian sebelum menyebut angka. Kalau harga keluar di percakapan pertama tanpa satu pun pertanyaan tentang proses Anda, angka itu kemungkinan besar dihitung untuk proyek orang lain.
2. Minta lingkup tertulis, termasuk yang tidak termasuk
Penawaran yang baik bukan sekadar total harga. Isinya menjelaskan apa yang dibangun, apa yang diserahkan, berapa lama, dan apa yang jelas tidak termasuk. Bagian terakhir ini yang paling sering dilewati, padahal dari situ biasanya muncul tagihan tambahan.
Ada vendor yang memberi harga tetap per lingkup, ada juga yang menagih berdasarkan waktu kerja. Dua-duanya sah. Yang penting Anda tahu model mana yang dipakai, dan apa yang terjadi saat lingkup berubah di tengah jalan. Tanyakan:
- Kalau ada kebutuhan baru di tengah proyek, bagaimana cara mengajukannya dan siapa yang menyetujui biayanya?
- Apakah pengujian, deployment, migrasi data, dan dokumentasi termasuk di harga, atau dihitung terpisah?
- Apa yang terjadi kalau timeline mundur karena menunggu data atau keputusan dari pihak Anda?
Di Niqcode, setiap penawaran memuat lingkup tertulis, timeline, harga tetap, dan daftar pengecualian. Kalau di tengah pekerjaan kami menemukan sesuatu di luar lingkup, kami tuliskan dan sampaikan dulu, bukan diam-diam menambah tagihan. Standar yang sama layak Anda minta dari vendor mana pun.
3. Pastikan siapa pemilik kode dan akun
Ini pertanyaan yang paling sering terlupa, dan paling mahal kalau terlambat ditanyakan. Sistem yang berjalan bukan cuma source code. Ada repositori, server atau akun cloud, domain, akun App Store dan Google Play, payment gateway, dan kredensial untuk semuanya. Kalau semua itu terdaftar atas nama vendor, pindah vendor berarti negosiasi, bukan serah terima.
- Setelah pembayaran lunas, siapa pemilik source code?
- Di repositori siapa kode disimpan selama proyek berjalan, dan apakah Anda punya akses?
- Akun cloud, domain, store, dan payment gateway didaftarkan atas nama siapa?
- Dokumentasi apa yang diserahkan, dan apakah cukup untuk tim lain melanjutkan pekerjaannya?
Tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua proyek. Yang penting jawabannya tertulis di penawaran atau kontrak sebelum pekerjaan dimulai, bukan dibahas saat hubungan kerja sudah renggang. Untuk bahasa kontraknya, libatkan penasihat hukum Anda.
4. Tanyakan cara mereka menguji dan menyerahkan pekerjaan
Laporan status seperti “progres 80%” tidak memberi tahu Anda apa pun tentang kualitas. Saat pekerjaan diserahkan, yang perlu Anda tahu adalah apa yang sudah diuji, apa yang sudah diukur, dan apa yang sengaja tidak disentuh. Minta contoh dokumen serah terima dari proyek sebelumnya, dengan data klien disamarkan. Vendor yang terbiasa bekerja dengan bukti biasanya tidak keberatan menunjukkannya.
Tanyakan juga bagaimana rilis dilakukan. Kalau rilis hanya bisa dijalankan dari laptop satu orang, risikonya bukan cuma teknis. Orang itu bisa sakit, sibuk, atau pindah kerja.
5. Baca portofolio dengan pertanyaan yang tepat
Portofolio menunjukkan apa yang pernah dikerjakan, tapi jarang menunjukkan siapa mengerjakan bagian mana. Satu sistem besar bisa melibatkan beberapa vendor, dan sebagian pekerjaan software house memang dikerjakan atas nama mitra yang tidak boleh disebutkan. Jadi daripada menghitung logo, tanyakan bagian mana dari proyek itu yang mereka kerjakan sendiri, masalah apa yang muncul, dan bagaimana mereka menanganinya. Kalau memungkinkan, minta bicara dengan satu klien lama. Jawaban yang spesifik lebih berguna daripada daftar nama besar.
6. Bahas apa yang terjadi setelah rilis
Software tidak berhenti butuh perhatian setelah rilis. Server perlu dipatch, backup perlu diverifikasi, API pihak ketiga berubah, dan pengguna akan meminta laporan atau kolom baru. Sebelum proyek dimulai, sepakati salah satu dari dua jalan: vendor tetap merawat sistemnya dengan ketentuan yang jelas, atau tim Anda mengambil alih dengan dokumentasi yang cukup.
Kalau memilih jalan pertama, tanyakan bagaimana insiden ditangani per tingkat keparahan, seberapa cepat mereka merespons gangguan total dibanding bug tampilan, dan bagaimana permintaan perubahan kecil dihitung. Kalau memilih jalan kedua, pastikan dokumentasi dan alur deployment memang bisa dijalankan orang lain, bukan hanya oleh yang menulisnya.
Tanda bahaya yang sering terlambat disadari
- Harga keluar sebelum ada pertanyaan tentang proses bisnis Anda.
- Vendor menolak menuliskan apa yang tidak termasuk dalam lingkup.
- Semua permintaan dijawab “bisa” tanpa pertanyaan balik atau catatan risiko.
- Kode dan akun produksi hanya bisa diakses oleh vendor.
- Tidak ada jawaban jelas tentang serah terima dan maintenance.
- Ada janji yang tidak bisa dijamin siapa pun, misalnya posisi pertama di Google atau aplikasi yang pasti lolos review store.
Satu tanda bahaya belum tentu berarti vendornya buruk. Tapi kalau tiga atau empat muncul sekaligus, berhenti di tahap penawaran jauh lebih murah daripada berhenti di tengah proyek.
Ringkasnya
Memilih software house di Indonesia bukan soal mencari yang paling murah atau yang portofolionya paling ramai. Pilih vendor yang mau menuliskan lingkup, pengecualian, kepemilikan, dan rencana setelah rilis sebelum Anda membayar apa pun. Kalau jawabannya jelas di atas kertas, kemungkinan besar pekerjaannya juga jelas.
Kalau Anda ingin melihat bagaimana kami menjawab pertanyaan ini untuk kebutuhan Anda, lihat daftar layanan kami atau ceritakan masalahnya. Anda akan menerima pembacaan kami, lingkup, dan harganya, dan Anda boleh berhenti setelah membaca penawarannya.
